Thursday, October 16, 2014

Ngebolang 2014 part 3: Kuala Lumpur ke Hat Yai lanjut Bangkok

I am back! Kita terusin ya ceritanya... Tadinya mau males, tapi berhubung nampaknya bakal ada kejadian 3 kali touch down tahun ini, mendingan kita selesaikan dulu hutang cerita yang satu ini. Beware, bakal banyak foto. =))

Sampai dimana kita kemarin? Ah iya, sampai di naik kereta api dari KL ke Hat Yai. Kereta malam, harganya IDR 199,380,-/orang. Lebih murah dari kereta Jakarta ke Jogja ya? Jarak dari Kuala Lumpur ke Hat Yai kira-kira 530 km.
KL to Hat Yai. Courtesy: googlemap
Bagaimana pemandangan sepanjang jalan? Entahlah, kan naik kereta malam, yang keliatan cuma gelap dan kelam malam. Kereta berjalan mengendap-endap. Errrr... enggak beneran mengendap-endap sih, cuma berasa pelaaaaaan banget. Mungkin karena waktu itu baru memulai petualangan, jadi adrenaline rush.

Pagi-pagi bangun, setelah sholat subuh (iya, sholat subuhnya di kereta dalam posisi duduk), baru mulai matahari keliatan ngintip. Bisa liat deh pemandangan di kiri dan kanan.

Banyak Kebun Sawit Sepanjang Jalan

Fajar di (Stasiun) Gurun
Sekitar jam 8 pagi waktu Malaysia (WIB+1) kami sampai di Padang Besar. Perbatasan antara Malaysia dan Thailand. Border-nya juga disitu. Ibu penjaga imigrasinya bawa anak, saking sepinya imigrasi antara Malaysia dan Thailand ini. Udah keburu-buru lewat imigrasi ternyata kereta pergi meninggalkan kami. Dan kami cuma bisa saling berpandang-pandangan, 'Heeee? Ditinggal pergi keretanya? Gimana ini??' (Ssssttt... Akhirnya sih kereta kembali dalam keadaan lebih pendek... beberapa jam kemudian. Hahahahaha.) Selama nunggu kami bengong di Stasiun Padang Besar yang lagi dalam perbaikan. Kamar mandi-nya jorok, ada bekas2 kotorannya, pokok e ngga manusiawi deh, jadilah diriku ngempet. Untung waktu di Kereta udah ke kamar mandi.

Tunggu punya tunggu, hanya ada beberapa orang yang nunggu seperti kami. Sepertinya kami menunggu kurang lebih 2 jam-an sampai akhirnya kereta meninggalkan Padang Besar. Menunggu ini ada hikmahnya. Jadi sembari bengang-bengong ngga jelas, cari colokan listrik untuk nge-charge handphone, ngga sengaja kenalan ama warga Thai yang keturunan Bangladesh (atau India ya? Lupa). Cerita punya cerita, dia rada setres denger kami mau ke Bangkok via darat. (Belom tahu dia ending kami di Siam Reap hahahahhahha). Terus aku tanya, kenapa ya di Thai ngga bisa beli tiket kereta online? Terus dia bilang, 'Lho, kalian mau cari tiket, itu ada tuh kantor kereta api Thai, langsung beli aja disana.' Alhamdulillah masih dapet, tinggal 8 bijik tiketnya, dikurangi 2, jadi tinggal 6. Tadinya kita udah deg-deg-an karena takut ngga kebagian tiket, dan udah mulai nyiapin skenario naik bus dari Hat Yai ke Bangkok.
Orang-orang yang Bengong Nunggu Kereta di Padang Besar
Bengong dan kelaperan, akhirnya beli makan dong. Tengok kiri kanan atas bawah, ternyata di atas ada warung. Awalnya agak ragu, karena itu warungnya ada di sisi Malaysia, padahal tadi kan paspor udah dicap masuk Thailand. Moso' belum apa-apa udah breaching border? Tapi karena nampaknya orang-orang pada wira-wiri biasa-biasa aja, ya kita ikutan beli makan disitu, terus cepet-cepet balik ke bawah. Lumayan ada macem-macem makanan, roti, snack, dll.
Nasi Bungkus 3 Ringgit 
Jam 11-an kereta datang. Kalau ngga salah cuma tinggal 3 gerbong. Dan berangkatlah kami ke Hat Yai. Yeaaaay. Tapi semangat '45-nya langsung ngilang setelah melihat....


....rasanya langsung ngantuk. Pemandangannya belum berubah. Hihihi. Nggak lama kami terbangun, gara-gara banyak orang naik ke kereta. "Phuket... Phuket... Koh Samui... Krabi..." Oh, ternyata orang-orang yang nawarin bus/mobil ke tempat-tempat itu. Kereta sepertinya udah berhenti beberapa lama, karena udah kosong, tinggal berdua. Hahahaha. Ketiduran xD

Turun dari kereta, cepet-cepet cari kamar mandi. Kamar mandinya lumayan bersih. Kalo mandi bayar 10 THB. Kira-kira 4000-an IDR. Segeeeeeerrrrr... akhirnya bisa mandi dengan proper. Abis mandi, cari-cari prayer room. Eh ketemu. :)

Tampak Luar Musholla di Hat Yai Junction Station
Tampak Dalam Musholla Hat Yai Junction, sisi Perempuan
Selesai sholat, disapa sama orang lokal, 'Ditunggu Abang kau diluar.' Dikira saya orang Malaysia (oh well!) :D Eh malah kita sempet ngobrol-ngobrol sama mbak ini.  Dia bicara pake bahasa melayu yang limited, karena ndak bisa bahasa Inggris. Sementara saya ngga bisa bahasa Thai. Di Thailand Selatan ini, sepertinya populasi perempuan berjilbab lumayan ada. Jadi bukan pemandangan asing, walau ndak banyak. Yang pake cadar pun ada.

Karena hari masih siang dan kereta kami masih jam 16 lewat, diputuskan kita mau jalan-jalan keliling2. Sambil tuker Bath buat makan. Aku masih ngandelin THB sisa yang dulu dan tentunya CC. Biar ngga repot keluar cash.

Tampak Depan Hat Yai Station

Di Sbucks ngga ada wifi gratisan, jadinya terpaksa beli deh. Lumayan kenceng, jadi bisa laporan sama ke MakNyak via Line Video =))

Bangunan di Hat Yai

Langitnya Cakep Yak... Panaaaassss ^_^
Keliling-keliling-keliling.... endingnya nongkrong di Starbucks sebentar. Maksud hati cari wifi gratisan, ternyata kudu bayar. Yo wis. Sekalian aja belanja keperluan yang kelupaan, karena di lantai atas ada supermarket. Beli sabun dan tissue. Sepanjang jalan kembali, pengen cari minum, yang dicari dan dibeli tuh Thai Tea. Hahahahaha. =))
Look at Me with the Tix!

Suasana Ruang Tunggu di Hat Yai Junction
Sudah capek keliling-keliling, kami kembali ke Stasiun. Duduk-duduk sambil jemur anduk yang tadi dipake mandi. Saking panasnya, kering loh itu anduk-anduk. =)) Sambil ngobrol-ngobrol, kita beli buah yang harganya 2 THB/bungkus. Paling suka mangga sama nanas. Nanasnya maniiiiis. Mangganya pun enyaaaaak. :D

Menjelang jam keberangkatan, 16.23, tanda-tanda kereta api telat makin terasa. Alamaaaaaak. Gimana ini kalau telat? Kalau on schedule, kami sampai Bangkok Hua Lamphoong jam 5.55 pagi. Dan tiket bus ke Siam Reap udah dibeli untuk bus yang berangkat jam 9. (Ada 2 bus, 1 berangkat jam 8, 1 lagi berangkat jam 9). Gimana ini kalo terlambat. Bubar, ngga jadi sampe Siam Reap dah. Good Bye. (Padahal tadinya kami mau mampir JJ Market alias Chatuchak) hahahaha... Ambisius banget sih bikin planningnya =))

Jam 16.45... Masih belum ada kepastian.
Jam 17.00... 'in a moment' kata mbak Penjaga Loket Informasi dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
Jam 17.20... Bapak Kepala Stasiun bilang 'just a minute'.
Akhirnya jam 17.40-an kereta pun nyampe sodara... Turunlah tentara2 bersenjata. Konon itu kereta rawan diserang di daerah Surat Thani dan Yala. Jadinya harus dijaga pake tentara bersenjata lengkap di tiap gerbongnya.

Begitu kereta dateng, kita cepet-cepet naik deh, karena Pak Kepala Stasiun nyuruh cepet biar nggak ketinggalan.
"Kob khun ka," kataku.
"Kob khun ka," kata si temen ikut-ikutan.
"You. (menunjuk ke aku) It's OK. Ka. And you (menunjuk ke temen) Krub. Not Ka," begitu kata Pak Kepala Stasiun sambil melambaikan tangannya. Dadaaaaaah Bapaaaaaaak.... :D
Fotonya Kabur, Keretanya Kenceng Banget!
Keretanya panjaaaaang. Satu gerbong mungkin isinya 140 orang. Duduknya tegak. Sandarannya cuma bisa dimundurin dikiiiit . Terus kita dikasih makan. Makannya halal, ada nasi putih, kari ayam, dan ikan. Nyam nyam nyam. Sepertinya karena ini di daerah banyak muslim, maka tanpa diminta pun (dan memang cuma ada 1 jebis hidangan) makannya halal. Tapiiiiii.... berhubung keretanya tipe Special Express DRC (Diesel Rail Cars), entah karena telat atau emang dasarnya 'Special Express', si kereta ini digeber abis-abisan sama Pak Masinis. Believe it or not. Rasanya kaya' naik roller coaster. Bayangin makan malem sambil dikocok2 roller coaster. Untung posisinya lagi kelaperan berat, jadi segala daya dan upaya dikerahkan biar itu makanan cepet abis. Saking ngebutnya si kereta, udah ngga bisa foto-foto pemandangan di luar. Boro-boro foto, orang kami aja malah berantem yang diluar jendela itu sapi atau kerbau saking ngga keliatannya. =)) Goyangannya maut, Maaaan. Bukan cuma goyang ke kiri dan ke kanan, tapi juga ke atas dan ke bawah. Nggak percaya kan? Aku juga nggak akan percaya kalo nggak ngerasain sendiri! Hahahahaha. 

Segitunya Pak Masinis ngebut, dia berhenti di hampir setiap stasiun yang kami lalui. Karena di Hat Yai tadi kami sudah dibekalin jadwal perhentian kereta sama Mbak Penjaga Loket Informasi, jadi aku sempet sampling gimana kecepatan kereta vs keterlambatan. Lumayan, dari terlambat hampir 2 jam, ketika terbangun menjelang tengah malam kereta 'tinggal' terlambat 1 jam 16 menit. Ya tetep aja keterlambatan ini bikin deg-degan. 'Ketinggalan bus ngga yaaaa... ketinggalan bus nggak yaaaa...' 

Bagusnya naik DRC ini adalah kami cepet tidur dan cepet bangun (saking goyangnya). Tengah malam kuputuskan untuk berubah rencana. Kami nggak akan turun di Hua Lamphoong. Kami mau turun di Bang Sue Junction aja. 20 menit lebih awal dari Hua Lamphoong Station dan lebih dekat dari terminal bus. Plus kalau kami mau ke terminal, kami akan ngelewatin JJ dulu. Great idea bukan? Sungguh planning yang keren. *memuji diri sendiri* *kasian amat ngga ada yang muji* =)) Si temen pun iya-iya aja. Ternyata pas bangun besok pagi dia nggak mudeng, jadi yang iya-iya pada malem hari itu kayaknya dia udah pusing ngerasain kereta yang sungguh tak terlupakan goyangannya. 922 km yang akan terkenang sepanjang hidupku. *lebay hahahahahaha tapi beneran ding, berkesan banget!

Hat Yai Junction Station to Bangkok Hua Lamphoong Station
Pheeeeew. Capek ngetiknya. Yang baca juga udah capek kan? Udahan dulu ya? Apakah kami terlambat? Apakah kami berhasil mengejar bus tepat pada waktunya? Apa yang terjadi berikutnya? Nantikan sandiwara radio kesayangan anda di channel yang sama pada waktunya nanti ketika episode berikutnya sudah diposting.... to be continued (again). Hahahahahhaahah. 

Friday, June 20, 2014

Ngebolang 2014 part 2 (SG-KL)

Kemarin waktu rapiin file-file yang ada di desktop, nemu file ini. Jadi inget, punya utang buat nulis tentang perjalanan ini. Ini perjalanan 'gila'. Awalnya gara-gara ada mbak-mbak galau yang tiba-tiba pengen jalan-jalan ke tempat yang jauh. Unwinding. Membuang sakit hati. Ceileeeee. Karena trip seperti ini sebenernya sudah beberapa kali di-sounding, tapi temen perjalanan yang dimaksud responnya selalu negatif. Well, pernah positif ding, tapi jadi negatif seminggu kemudian. Hahaha. So, akhirnya momen itu tiba. Pas lagi galau, eh ternyata ada yang udah beli tiket backpacking-an. Dengan berbagai modifikasi karena awalnya si empunya rencana mau backpacking-an naik bus SG-BKK return, akhirnya jadilah itinerary kita (iya, aku ngaku deh, aku yang bikin trip-nya jadi sampe Kamboja) hahaha! Awalnya malah ada rencana mau ke Phuket dan Phi-phi, tapi tetep mau ke Kamboja, yang tentu saja nggak mungkin lah yaaaa... kecuali kita backpackingan via udara dan bukan lewat darat seperti yang direncanakan semula.

So? Apakah perjalanannya smooth? Tentu tidak. Hihihi. Bayangkan 2 orang stranger tiba-tiba backpacking-an bersama. Oh well, we know each other on name basis. But that's that. Lainnya? Stranger. We don't know each other well. Hahahaha. Apa yang terjadi? Kami sampe SG di waktu yang berbeda, yang satu ngotot mau naik bus ke KL via terminal Johor Bahru, yang satu maunya naik bus langsung dari SG ke KL. Selisih 150.000 IDR sih emang. Tapi kan... tapi kaaaaan... lebih nyaman... Hihihi. Ya begitulah, yang katanya mau backpackingan bareng dari SG pun kita mundurkan dari KL, gara-gara sama-sama keras kepala.
Bangku di Dalam Bus, Bisa Selonjoran dan Ada Monitor buat Nonton Film
Anyway, Bus langsung dari SG ke KL itu sangat-sangat nyaman. Kemarin pake bus Nice. Kaki bisa selonjor dan di dalem bus ada wifinya. 4G! Alhasil sepanjang jalan malah ngidupin gadget dan ngobrol video call ama Mama. Murah bayarnya, pake voucher, 5 ringgit sajo. Amazing banget lah tuh jaringan internet Malaysia. Indonesia kapan bisa gitu ya? Sepanjang jalan sih yang dilewatin kebanyakan jalan tol yang kanan-kirinya penuh lahan sawit. Cukup monoton pemandangannya.
Dapet Snack di Bus

5 Ringgit Aja dan Voucher Ini Bisa Dipake Buat Browsing 4G di Wilayah Malaysia, No Glitch Sepanjang Jalan

Menjelang masuk KL, lalu lintas lumayan berat. Macet. Yang kudunya jam 18 sudah sampe KL sentral, baru jam 19 nyampe. Di sana cari ATM (kemaren ngga bawa ringgit sama sekali, males nukernya, abis cuma butuh paling buat makan sekali aja), ambil ringgit setara140.000 IDR buat beli makan dan odol + sikat gigi. (Masa' lupa bawa alat mandi cobaaaa). Trus makan Tuna Melt Panini di Subway. Yummy! Menjelang jam 20.30, nyari peron, nukerin tiket yang udah dibeli online. Ternyata belum dibuka. Sistem disana, sama dengan di sini. Baru boleh masuk 30 menit sebelum berangkat. Anyway, tahukah saudara-saudara dimana temen jalan saya? Oh ya, kami ketemu di depan pintu tempat nunggu kereta. Handphone-nya dimatiin sodara-sodara =)) Sementara diriku kumel bau keringet karena sesiangan jalan kaki naik turun MRT dan jalan-jalan di Garden by The Bay di siang yang terik, dia udah mandi aja dong. Di KL Sentral ada ruangan mandi yang cukup decent dengan membayar 5 ringgit saja. Aku tadinya juga berencana mau mandi, tapi karena liat ruang sholat-nya yang nggak OK, kupikir tempat mandinya sama aja kaya' gitu, ternyata bagus katanya. Ya sudahlah, udah nanggung juga mau mandi. Trus endingnya naik kereta deh jam 21.30 menuju Hat Yai. :D (to be continued...)

Subway's Tuna Melt!!!

Sleeping Train from Kuala Lumpur to Hat Yai




Tuesday, May 06, 2014

Una Noche di Tanjung Bira

Yep. Semalam di Tanjung Bira :D

Ceritanya kami punya waktu senggang di sela-sela kerjaan. Jadi berangkatlah kami ke Tanjung Bira. Cukup 5 jam saja dari Makassar. Ho ho ho... ho oh, 5 jam. Sampe pegel dah tuh duduk di mobil, berasa mau mudik aja. Berangkat jam 7 pagi (lewat dikiiiiittt) akhirnya kami nyampe di penginapan jam 14-an. Lho katanya 5 jam? Iya, perjalanannya 5 jam, kita kan pake acara mampir makan siang dulu hihihi.


Ini nih yang namanya Pantai Tanjung Bira. Kurang terawat ya? Ho oh. Tapi lihat doooong birunya pantai sangat menjanjikan. :D Nggak lama, kami naik kapal untuk main snorkling di Pulau-pulau sekitar sana. Bentar aja sik, paling satu jam, soalnya lagi ngga enak badan dan badan capek semua.


Itu foto-foto dari tempat kita main-main snorkling. Beda banget lah gaya kita snorkling-an ama anak-anak yang sering main-main disana. Anak-anak pantai yang tiap harinya memang main-main di pantai.


Tanjung Bira di siang menjelang sore. Ini di sisi Timur pantai yang tadi ada di foto pertama. Lebih bersih ya? He eh.



Di Tanjung Bira kemarin kami menginap di Hotel Panrita Lopi, yang artinya 'Pembuat Kapal'. Dari kamar di hotel ini lah kami bisa liat sunrise! Yiiihaaaaa! Yep. Pantai di Tanjung Bira itu menghadap sunset, sedangkan dari sisi Panrita Lopi Hotel, kita bisa liat sunrise :D



Kenapa namanya Panrita Lopi? BAPAKNYA YANG PUNYA HOTEL JUGA PENGUSAHA KAPAL!! #oops caps lock-nya kepencet, saking terlalu excited. Jadilah kami sekalian jalan-jalan ke 'pabrik' kapal punya Bapak Haji. Booo yaaah! Gedheeee bangeeeet kapal Phinisi itu. Liat tuh, pohon kelapa aja ada yang hampir keselip tingginya.


Daaaaaan, akhirnya, sebelum pulang, kami mampir dulu ke Pantai uuummm.... apa ya namanyaaaaa? Pokoknya pantai yang cakep banget dan masih belum terambah! Ke sana nggak pake mbayar, orang ngga ada pintu gerbangnya. Terus jalan masuknya daleeeeeem banget. Kaya' mau ke tempat rahasia gitu deeeeh. Subhanallah. Indonesia ini sungguh potensinya luar biasaaaaaaa.

Friday, April 18, 2014

The Last Words

Nonton NCIS, seorang perempuan menangisi kata-kata yang diucapkan ke pasangannya saat mereka bertengkar (tepat sebelum laki-laki itu mati tertembak).

"You know what was my last words to him? I called him a bast*rd. And I cannot take it back. Not now."

Ada kalanya perasaan menyesal yang sangat itu muncul ketika kata-kata (makian?) yang ingin diucapkan tertahan di tenggorokan. Kenap ngga diucapkan saja? Toh kesempatan untuk mengubgkapkan kekecewaan dan kemarahan mungkin hanya muncul sekali. Let it roar then finish itu. Hmmm.... Bisa jadi begitu. Mana kita tahu nasib orang, begitu makian terucap, orangnya wassalam. Atau malah kitanya yang wassalam. Who knows? Jadi biarlah kata-kata yang tercekat tetap tertahan, karen pisau yang terlempar ngga akan pernah bisa ditarik lagi, either dia kena sasarannya atau enggak. :)

Lesson learnt by theory since long ago. Hopefully can be practiced till the end. 

Friday, March 28, 2014

Ngebolang 2014 part 1

Sekitar sepuluh tahun yang lalu (lama juga ya?) sohib saya Si Picha melakukan trip jalan darat yang cukup jauh. Walaupun sudah lama berlalu, her trip inspired me. Hmm... 'Menantang' mungkin lebih tepatnya. Pernah denger kan kalimat, 'saingan paling berbahaya adalah sahabat terdekat'? Nah itulah. Kalo dia bisa jalan darat, kenapa aku ngga bisa? Oh dan tentunya, kudu ada icing on the top of the cake, biar saya ngga cuma mengikuti jejak si Picha. Apa tuh? Macih lahaciiiiaaaa hihihi. 

Tulisan ini dibuat di bus, berfasilitas wifi. 4G. Kapan kita bisa beginiiiiiih? (Si 4G yg dirumah aja ga ada sinyal). x)) Nah daripada kuotanya kebuang percuma dan keburu jadi fakir benwit lagi, marilah dimanfaatkan saja. Haha.

Dua check points hari ini sudah dilewati. Alhamdulillah, masih on schedule :) Perhitungan-perhitungan waktu yang kemarin di-spare just in case ada terlambat/meleset, dikonversi jadi olah raga kaki. Jadinya masih sempet menengok-nengok yang sebelumnya ga berencana ditengok.

Sempet nengok ini:


Ini: 
Daaaaan.... Setelah nyasar-nyasar akibat ngga bawa peta, nemu juga jalan menuju tempat ini:

Siapa orang gak mutu yang panas2an ke tempat itu? Aku. Hihihi. Subhanallah, sungguh panas sekali kalo jam 12 siang ke sana. Jangan diikutin deh kalo gak pengen kepalanya nyut2an. 

:)

Saturday, March 01, 2014

Kan Ada Batman

Di suatu penerbangan, duduk seorang anak--yang luar biasa berisiknya--di sebelah Kakeknya. 'Eyang,' begitu panggilan cucu ke Kakeknya yang tipikal pejabat dengan 2 ajudan yang mengikuti.

Setelah 2 jam penerbangan yang bikin orang susah tidur karena si Adek ini berisik melulu tepat di belakangku, pengumuman dari pilot "Passengers, prepare for landing" terdengar sangat merdu. Di tengah keheningan orang-orang yang tampaknya sudah sangat lega, eeeeh kedengeran lagi suara melengking khas anak-anak.
D : "Eyang, nanti kita mampir toko mainan dulu ya."
E : "Iya, besok pagi kita ke toko mainan. Sekarang sudah malam, nggak ada toko mainan buka."
D : "Lihat tuh di jendela, Eyang, lampu-lampunya masih hidup. Itu toko mainannya juga masih buka dong. Lampunya masih hidup." (sambil nunjuk-nunjuk keluar jendela)
E : "Iya, lampunya masih nyala, tapi tokonya sudah tutup. Yang punya toko sudah pulang. Besok pagi kita beli mainannya ya."
D : "Yaaaaah, kenapa pulang sih? Harusnya kalau lampunya masih nyala, toko mainannya masih buka dong. Nanti kalau malam-malam ada yang mau beli mainan gimana?"
E : "Kalau malam-malam gelap, siapa yang mau beli mainan?"
D : "Kan ada Batman."

Wakakakakakakaka... Terima kasih ya, Dek D, atas hiburannya. :))

Monday, February 24, 2014

Kisah Sepotong Waffle

Baca majalah Tempo yang menulis tentang label halal, jadi teringat sepotong kisah.

Kejadiannya kalau nggak salah di tahun 2008, di Waterford, Irlandia.
Waktu itu hotel yang kami tinggali nggak menyediakan fasilitas breakfast. Karena aku baru bergabung malem-malem buta dan sangat lapar, aku jalan duluan ke resto fast food persis di sebelah hotel. Chain restoran ini belum keliatan di Indonesia sampai saat ini. 

Biasalah, karena duit mahasiswa cekak (alesan ding), biar ngga laper, makan french fries dan telor aja lah. Mbak Waitressnya menerima pesanan dan langsung dikasihkan ke mas yang masak. Mas yang masak ngeliatin aku, terus ngga lama setelahnya, dia datengin aku dan bilang, "Kayaknya mending ganti pesanan deh, kamu muslim kan? Gini lho, takutnya minyak yang buat masak kecampuran ama yang dipake buat masak yang non halal. Mau nggak sarapan pancake atau waffle aja? Kalau yang itu aman deh." Kaget campur terharu ngeliat masnya. Dari tampangnya sih dia orang Timur Tengah. Oh well. Alhamdulillah ada yang mengingatkan dan menjaga. Itulah namanya muslim brother/sisterhood. :)

Makanya sedih banget kalau lihat dan merasakan betapa muslim yang satu negara, yang harusnya tidak asing satu sama lain justru nggak rukun. :( Mungkin mayoritas membuat kita semakin sombong dan individualis, serta lupa bahwa kita sebaiknya menjaga satu sama lain. Wallahu 'alam.

Saturday, February 22, 2014

21 Februari 2014

Sungguh, kalau Allah mau membukakan hati itu adaaaa aja jalannya. :) Akhirnya bisa berdamai juga. Berdamai dengan diri sendiri itu penting. Sehingga ga perlu lagi bertanya kenapa. Yang sudah terjadi, ya memang harus terjadi. Pilihan-pilihan yang dibuat karena emosi, kebodohan, dan alasan-alasan lainnya stayed there sebagai pembelajaran. Next time, lebih logis dalam bertindak.

Ketika melangkah ke depan, ngga perlu lagi diingat2 detail cerita lama. Yang perlu diingat adalah bagaimana cerita-cerita itu membentuk dan--semoga--mendewasakan diri. :)

Alhamdulillah. Terima kasih yaa Allah :D

Friday, February 14, 2014

Jadi Kopi

Jadi kopi, itu pesan WI sore ini. Sederhana dan sudah sering didengar. Jangan jadi wortel, jangan jadi telur,.... Jadilah kopi. Jangan pecahkan masalah, malah jadi banyak. "Diatasi sajalah", begitu katanya. Dengan diatasi, ketika masalah yang sama datang, kita sudah di atasnya. Oh well, words play :) Walau begitu, Disposisinya akan berbunyi: untuk dilaksanakan! 

The Flood-nya Take That ini untuk para Defenders of the Faith di luar sana. Percayalah, kita enggak sendirian. :)

Standing on the edge of forever,
at the start of whatever.
We beamed at the moon and the stars,
then we forgave them.
We will meet you where the lights are,
the Defenders of the Faith we are.
Although noone understood we will holding back the flood
learning how to dance the rain.
Bleeding, but none of us leaving.
Here we come now on a dark star,
seeing demons, not what we are.
There was more of them than us,
now they'll never dance again.

Wednesday, February 05, 2014

Bengong

Ini hari kedua dari sekian hari yang masih harus dijalani di 'pengasingan'. Dear God, I am bored already. 

Jadi, duduk manis, bermain dengan telpon yang menurut aturan ngga boleh... Akhirnya kesasar di website Ted. Sungguh, kenikmatan apa yang sedang saya dustakan? Dan kenapa ada begitu banyak manusia yang diciptakan untuk merasakan derita yang sedemikian berat. Oh no, ini bukan hanya tentang korban banjir di banyak kota di Indonesia. Ini tentang mereka yang kelaparan dan tidak berdaya, mereka yang harus menjual raga (dan mungkin jiwa) karena ketiadaan pilihan. Sungguh, beruntung manusia jika hidup ini memang hanya tempat bersenda gurau yang sementara. I'll see you and your smiles in the eternity.

Tuesday, January 21, 2014

Long Way to Go

Iseng-iseng cek atlas, ternyata masih a really long way to go... Three continents to go. One step at a time. :)
Up Until Now


There's a place I think about, where the sun never goes out
And sky is deep and blue, would you take me there with you? -Ivy, Edge of Ocean


Thursday, January 09, 2014

A Bit about Pokopang

These last few weeks my time was spent on playing this time-eater game: Pokopang! Sometimes I think this game is as contagious as influenza.Somehow, I only found 2 blogs that have a kind of walkthrough posts about this game. Here and here. It is a bit frustrating having no clues in playing this game. Haha.

I am too lazy to write all the details, so you can read both blogposts to get some more insights.  I make this posts to make a reminder for myself (and to those of you who need some inspirations). Before we start, I have to make a disclaimer that I'm not an expert in this game, my friends got more scores than I did, I'll just share what I know up to this very moment.



As shown in the picture below, this game 'worship' cherries, diamonds, and clovers. Cherries can be used to buy 'additional weapons' inside the game, diamonds can be used to buy almost anything including extra clovers, extra cherries, and some other bonuses. And clovers are your means of life in this game. No clovers, no game. :P



First of all, this game is about hitting the monsters with the blocks that you eliminate during the game. You only have 60 seconds (normal time) to eliminate as many blocks as you can. You can eliminate a minimum of 3 blocks at a time. When you eliminate 3 blocks, a fruit will be thrown to the monsters. The stronger the power of your fruits, the easier you kill the animals. 
Key points: 
  • 3 blocks = 1 fruit thrown, 4 blocks = 2 fruits thrown, 5 blocks = 3 fruits thrown, and so on.
  • 3 blocks = no cherry; 4 blocks = 1 cherry; 5 blocks = 2 cherries, and so on. When you eliminate 10 blocks at a time, you'll get all the cherries from the blocks + a blue cherry. The value of this 'super cherry' is 10 'ordinary cherries' or the red ones. Eliminate 11 blocks, you'll get additional 2 blue cherries, and so on.

Second,  animal. The animal(s) that help you would be highly important. In the name of the fun of the game, you should open all 3 slots of animal. It will take time for newbies to get this. Well, if you don't have the patience you can always buy the diamonds needed. (I am not suggesting this option, coz it'll ruin your monthly budgets. But hey, maybe you're budget is more flexible than what I have, right?) :P

The animals have some different skills. Some of the animals only have powers to help us hit the monsters, but some others have additional skills such as extra cherries, poison, rainbow, drainbow (double rainbows), and bombs.

Key points:
  • extra cherries will be given at the moment of impact between the monsters and the animal. (When you got high level animal, it is possible that you could kill more than one monsters at a time.)
  • poison will give you extra damage when the fruit hits the monsters.
  • rainbow will eliminate the same colour blocks. 
  • double rainbows will eliminate 2 same colour blocks.
  • bombs are more effective when the explotion happened in the middle of the field. It is a bit hard though to make the bombs in 'the right position'.

Third, Fever Mode. Fever Mode will happen in every 7th combos you make. 7, 14, 21, 28, 35, and so on. What's the story behind this 'fever'? Each blocks explode in the fever (because their position are close to the blocks that you eliminate) will result in 1 fruit thrown to the animal. Yummy extra damage, eh? ;)

How to enjoy the game?
For me myself, I have some different ways to enjoy this game. Usually I make my own mission and changing the way I play, for example:
1. Cherries hunting
I am doing my cherries hunting at the beginning of the week. I don't mind the low score, as long as I got plenty of cherries during the game. 
How to? I put the animals that give cherries bonuses in the slot.



2. Point seeker
After I think I have enough cherries to 'embrace the journey to high points' I will change my animal again. Usually I use those animals with highest powers and bonus that will be useful to give extra damage, such as bombs or rainbows. And of course I also use the 'rare items' that only available through the spin after we play 15 times. Between the paint and the star? I would pick the stars anyday. Too bad, getting this star item is the hardest one. You'll need a lot of luck. 

I am sure I still miss some things here, anyone want to share their strategies? :)

Monday, January 06, 2014

Brain Freeze

Kelamaan ngerjain hal-hal yang ngga butuh kreativitas itu bikin otak buntet. Dan no, yang dimaksud dengan kreativitas disini bukan tentang origami atau merangkai bunga. Contohnya begini, kemarin weekend seharian berkutat dengan urusan download men-download lakorn. Apaan tuh lakorn? Lakorn itu sinetron Thailand, yang biasanya cuma sepanjang 12-23 episode terus tamat. Ngga kaya' sinetron Indonesia yang panjangnya naudzubillah pun belum tentu ada endingnya. Terus terus...? Ya tentunya tokoh-tokoh sinetron itu bicara pakai bahasa Thai (obviously!!!) :) Jadi diperlukan adanya subtitle dong ya?

Nah, di youtube sudah ada tuh hard-subnya, tapi kualitas gambarnya low res. Bikin sakit mata dong... Nah, supaya ngga sakit mata kita cari yang HQ. HQ didapat, udah hepi tuh siap-siap maraton nonton... Eeeeeeh... jreng jreeeeeng... yang HQ ngga ada subtitlenya bo'! Toweweweng.

Dari siang sampai sore, nguplek-uplek mbah gugel dan forum-forum sampe ngepoin orang-orang yang biasa nerjemahin lakorn. Masak sih nggak ada leakingnya sama sekali ini subtitle? Ketika sudah mulai menjelang maghrib, sudah mulai menyerah. Ya sudahlah. Gimana lagi. Sia-sia download HQnya. Udah berusaha belajar cara ambil subtitle di viki pun percuma, wong di viki juga lakornnya malah sebagian episodenya hilang. Ya nasib deh. Mosok baca subtitle pake bahasa Rusia? Ini udah tahun 2014 gitu... Sedemikian mudahnya kah teknologi jadi obsolete?

Wait... wait... Bahasa Rusia? Iya. Jadi ceritanya di suatu forum ada tuh terjemahannya bahasa Rusia. Bukan bahasa Inggris. Karena ngga percaya, di didownload dan dicoba. Eeeeeh, beneran bahasa Rusia, pake font cyrillic. Alamaaaak. Percuma dong.

Percuma? Ya enggak laaaaah... Di sinilah baru kusadari brain freeze. Kenapa aku dong-dong sekaliiii? Kenapa nggak dari tadi itu soft subtitle diterjemahkan kemudian tinggal dipasangkan ke videonyaaaaaa? Aaaaaaaakkkkk... bodoh nian yaaaa? Itu kan cuma perlu sedikiiiiiit out of the box. *ngakak-ngakak ngetawain diri sendiri yang berjam-jam being dumb*

Endingnya? Endingnya ya si font cyrillic itu di-convert jadi font biasa, kemudian di-google translate-kan, dan kemudian di gabungkan sama si video. Beres? Nope. x_x Belom beres karena ternyata videonya sama subtitlenya ndak sinkron. Trus diapain dong? Disinkronkan laaaaaah. Kemaren makenya subshifter untuk synchronizing waktunya. :D

This year... i promise myself to spend more time out of the box :)