Tuesday, February 02, 2010

Unbearable

I always said I can watch any kind of movie, except horror.
But I prefer only to watch cartoon and romance comedy.
That made my list of watched movie is short, very short indeed.
And why?
Because I have the power to choose.

Watching those movies about people's life, about how they think, makes me scared. People can be nice, yet they can be more evil than the devil and most of the times they don't even realized about the devil they become. This complex things make life bearable. Some people being lucky and back to their human mode before it's too late. Some just ain't lucky.

Watching those things in the movie makes me feel helpless. No justice and I can do nothing. Well, it's enough that real life is like that. Let the injustice corrupt the real life, but let me spare some piece of mind. Real life is harsh indeed and human needs to be strong.

Let me dream a dream of a utopian world while enjoying those so called entertainment. ;)

~after reading an excerpt of To Kill a Mocking Bird. This kind of book, which I would likely to buy or borrow in an impulse yet don't have the courage to even start it. Because when I start, I know I have to finish it and when I finish, I know I will have swollen eyes for days. And I know, it's not a good idea. Not a good idea... at all. Well, at least for the time being. ;)

Friday, January 29, 2010

Remembering Death

Dulu waktu saya masih ingusan (literally), pernah ada seorang guru yang bilang gini: Kalo ada orang yang mengingat mati, paling tidak 20 kali dalam sehari, maka orang itu akan masuk surga. Tahu dong, betapa pintarnya saya waktu itu... tentunya didorong keinginan kuat untuk bisa masuk surga, saya mengingat mati, nggak tanggung-tanggung, baru selesai waktu subuh dan belum selesai waktu Dhuha, saya sudah mengingat-ingat mati lebih dari 20 kali. Kok bisa? Ya bisa, wong tinggal ngomong "ingat mati", trus diulang 20 kali. Hi hi hi.

Anyway, pembicaraan tentang ini tidak pernah menjadi hal tabu di rumah, karena entah kenapa, topik ini adalah salah satu topik favorit. Karena seringnya yang diomongin bukan tentang kematian itu sendiri, tapi tentang hal-hal terkait, misalnya nerusin sekolah dimana besok kalau salah satu dari ortu ada yang meninggal duluan. Apakah ibu tiri itu beneran suka ngerokin pake piso (hi hi hi). Apakah saudara tiri itu sejahat sodara-sodaranya Cinderella, etc. etc. Dan topik-topik itu masih terus berkembang sampai sekarang, walaupun mulai sedikit berbeda arahnya, misalnya, waaaa.. jenggotnya babe udah putih, udah tua atau aku kemaren utang di warung 200 perak soale gak ono susuk, dsb.

Dengan situasi seperti itu alangkah kagetnya ketika suatu saat ada seorang yang tiba-tiba marah karena kami membicarakan tentang kematian. Hmm.. marah is a downgrade. Murka tepatnya. "Nggak etis itu ngomongin tentang kematian, apa kalau sudah tua itu artinya sudah hampir mati?" Oooops. Dan sayapun terdiam. Langsung mingkem. Wah, lagi bercanda je. Kalau rambut sudah beruban, itu artinya maghrib menjelang. Perbanyak ibadah. Bukankah demikian? Yang muda aja bisa mati duluan, apalagi yang sudah tua, tinggal nunggu waktu toh?

Ah sudahlah. Kami yang lebih muda bicara tidak pada tempatnya. Maaf ya. 

Tapi ceritanya belum berakhir, karena keesokan harinya, ternyata bakul rujak langganan yang biasanya dijabanin paling enggak setahun sekali ternyata juga udah meninggal. Weeew. Pantesan aja beberapa bulan yang lalu warungnya tutup terus. Sekarang yang jualan istrinya. Dan simbah bakul rujak edisi pertama masih ada disana (yang meninggal itu bakul rujak edisi kedua), masih setia ngupasin mangga dan nanas. Kalo ketemu simbah itu, jadi inget sama Eyang Kakung yang dulu hobinya pergi beli rujak sama cucunya yang cuma pake kaos kutung dan celana pendek naik vespa, mbah itulah yang njualin. 

Hmm... how time flies. 

Wednesday, January 13, 2010

Catatan buat 2014

# Mulai hari ini pasang mata, telinga, dan semua indera buat mulai pilih-pilih wakil rakyat.
# Yang dipilih nggak harus sama di tingkat daerah tingkat II, I, dan pusat.

Eeeeewwww... nggak diulangin lagi deh cari info cuma pas deket-deket kampanye. Yang kader-kadernya bagus belum tentu punya wakil yang bagus pula ternyata. Yang kader-kadernya kelihatannya meragukan ternyata wakilnya bisa jadi rising star. Yang putih belum tentu putih, yang biru belum tentu biru, yang ijo belum tentu ijo. Lagi-lagi wang sinawang. Jan repot tenan.

Sunday, December 13, 2009

Nada que Declarar


Saya punya utang postingan ini.
I know I made a statement that I will post the whole story in BS. Clearing things and stuffs. Tapi setelah menimbang, mengingat, tidur, menimbang, tidur lagi, mengingat lagi (aaaarrrrrggghhh.. belum makan @_@), akhirnya ya postingan ini aja deh yang keluar. Maaf ya... >.
***





People tend to get other people wrong. It's all about miscommunication. Sometimes your words was taken at face value when you meant something else. I think I have my share on the mess though, should've more careful when throwing out an insider remark nor a joke as dry as whisky.

OK. I've learnt my lesson.

---
(PS. aaaarrrrgghhh... that website was about liposuction. muhahahahaha)

Thursday, December 10, 2009

Blurry Line

Mungkin cuma sedikit sekali dari mereka yang baca tulisan ini yang punya character di sebuah game flash di facebook yang bertema Pirates of the Skies.

Beberapa hari ini, langit di Sios lagi gelep, mendung. Ada salah satu respectable clan yang ternyata punya beberapa bot (script-bots). Para aktivis DB terbagi menjadi dua ketika Clan Master clan tersebut mengumumkan bahwa mereka akan membubarkan diri, karena akan nggak fair bagi para anggota yang tidak terlibat tapi kena' cap cheater. Semacam gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga lah kira2. I won't bore you guys into details.

Pertama kali aku denger2 cerita ini, reaksiku satu, come on people, get a life. It's just a game. For fun. D'oh.

Lama-lama ceritanya makin seru. Dan sekarang aku disini, memantau kejadian ketika para anggota clan tersebut melalukan perang terakhirnya sebelum tenggelam untuk selamanya. Sudah beberapa hari sejak mereka terakhir kali floating. Wew. 9 fort sunk and counting... lebih rame dari sinetron.

Apa para 'pencipta' internet pernah membayangkan kejadian2 begini? Seandainya gamer pada game tertentu dianggap sebagai 'bangsa'. Begitu mudahnya mengadu domba mereka. Hmm... baru beberapa minggu yang lalu terjadi perang mulut gila2an antara 'bangsa' Lousy Fishermen and 'bangsa' Stupid Pirates, cuma gara2 survey Best Game. Sekarang ada kejadian perang antar 'suku'. Dan tiap2 suku ini secara geografis punya member di seluruh dunia. Ha ha ha... Mbulet. I know.

Betapa gilanya ya kemajuan kehidupan di muka bumi ini.

Dulu (15 tahunan yang lalu) setiap kali baca tentang Machu Pichu, aku nggak pernah ngebayangin gimana caranya berkomunikasi nirkabel itu. Nggak ada dalam bayanganku komunikasi dengan henpon, BB, wifi, etc. Walo sampe sekarang aku juga masih nggak ngerti tentang Machu Pichu, tapi aku bisa membayangkan... oh.. gitu ya rasanya arisan sama orang2 di tempat-tempat yang jauh. Bertukar cerita, menyusun strategi bersama, bekerja sama as a human, in the same level. Bukan lagi monopoli orang2 penting di PBB, bukan monopoli para pemimpin bangsa saja. Everybody can, when they have access. Wew. Beberapa chapter dalam buku-buku sosiologi sepertinya harus ditulis ulang.

Sepertinya tulisan ini harus segera disudahi, udah nggak ngerti tadi awalnya nulis apa sekarang nulis apa.. Ha ha.

PS. Saya masih tetep nggak nyaman sama orang-orang yang begitu snobnya bikin aliran 'my way or highway'. Baik online maupun offline. Oh dan satu lagi, saya nggak nyaman sama fenomena latahnya orang Indonesia. Njuk ngopo nek ono 1 juta orang begini begitu.. come on. Nek mung bengak bengok wae, kabeh yo iso dab. Do something (dan somethingnya itu dengan cara selain mbuka mulut/mengeluarkan pendapat/nulis opini. Too many people did that.) Bisa? Nggak bisa? Yo meneng o. Sssssssstttttttt!!!