Friday, October 11, 2013

Care(less)

Malam kemarin, aku tergopoh-gopoh jalan cepat selama sekitar 45 menit karena nyariin seorang terduga kesasar. Ngga pake persiapan, wong pas janjian nampaknya semua akan berjalan lancar. So, there I was, only bringing my wallet coz am in a hurry and to lazy just to take out the key. Pake sandal jepit. Wis, pokok e mbambung style.

Eeeeh, lha kok yang dijemput ketiduran yang akibatnya jadi kebablasan. Dikala kehilangan orang itu, aku coba telpon dia, kontak orang2 yg kira2 tahu jalan, pokoknya semua cara aku coba. Akhirnya? Alhamdulillah... Happy ending. Walau kaki lumayan njarem :)

Setelah kejadian itu, kami ketawa-ketawa. Pada satu titik aku berhenti ketawa dan teringat. Suatu waktu, aku pernah berada di tempat yang sama. Kejadian yang hampir mirip. Just a small town girl in a strange capital city, right in the middle of an unfamiliar place plus it was 10 at night.

Apa yang terjadi? The one that I hope will save me, didn't care much, even though I was near. :) Should've read the signs. Oh well, but I learnt my lesson, kok :)

Sunday, September 22, 2013

Twitter, Ruang Pribadi yang ter-Publik-kan

Semoga judulnya ngga menunjukkan kalo aku terpapar virus 'vikcy-nisasi' garis keras ya :)
By the way, 2 tulisan dalam kurun waktu 24 jam, artinya sedang terjadi badai besar di kepala dan hati. Hahaha.

Pagi ini out of the blue muncul ke-kepo-an gara-gara baca tweet orang. (Nett! Lain kali tahan diri untuk tidak kepo.) Kenapa kepo? Karena ada kala pengen banget unfollow akun itu karena isinya nggak penting banget tapi rasanya nggak sampai hati. FriendsI know, #FirstWorldProblem. Pagi ini, akun itu tiba-tiba berisi sesuatu yang beda dari biasanya. Dan disitulah aku terpancing pengen tahu ada apa dan kemudian terjerumus dalam tweets berisi drama mirip sinetron.

Kalau dirasa-rasa, sebenernya kejadian yang dibahas itu jamak terjadi di keluarga manapun. Bukan hal yang sangat besar (tanpa bermaksud mengecilkan masalah), cuma kok ya dibahasnya di twitter. Ditambah dengan bumbu kata-kata nggak OK dan kalimat-kalimat yang cenderung tinggi hati, yang rasanya lebih pantas terucap dalam hati. Atau paling tidak cukup di dalam private messengers lah kalo udah nggak nahan lagi. Itu pun juga ngga pantes sebetulnya.

Lagi-lagi, inikah fitnah yang masuk dengan mudahnya ke setiap rumah saat ini? Setiap saat setiap waktu, terpapar infotainment (hidup TV kabel!), terpapar drama-drama di twitter (untung ada akun-akun yang menyejukkan), dan perpindahan informasi yang sedemikian cepat, sampai terkadang kita terlena belum sempet ngecek kebenarannya dan sudut pandang mana yang diambil.

I used to think that sometimes standing still can be the best move one can ever take. Namun sungguh, ada kalanya ketika berdiri pun bisa tersambar badai, mungkin lebih baik tiarap dan diam. Another lessons to learn, memang malu itu penting banget dijaga. Banyak hal dalam ranah pribadi yang nggak perlu orang lain tahu. Saru, kalo orang Jawa bilang. Kudu lebih berhati-hati supaya nggak kepeleset dan kelewat batas, dimanapun kita berada. Maya or not maya (maksudnya online or offline).

Saturday, September 21, 2013

Tentang Dia

Sore tadi Metromini karatan yang kutumpangi ngerem mendadak dan bermanuver khas ala pembalap jalanan. Ada apa? Ternyata Pak Sopir mau mendahului gerobak yang isinya karung-karung besar. Entah apa isi karung-karung itu. Yang jelas nampak sangat berat. Bapak yang menarik gerobak kelihatan kepayahan. Iya, ditarik. Iya, pake tenaga manusia. (Jangan bilang no pic = hoax ya.. boro-boro ngambil gambar, ngatur perasaan saat itu aja susah.)

Melihat itu, spontan dalam hati terucap doa buat Bapak Penarik Gerobak. Apa doanya? Biar aku dan Dia aja yang tahu. Yang jelas kejadian ini bikin inget tentang salah satu doa mustajab adalah ketika kita tidak tahu kita sedang didoakan. Besar harapan kalo doaku itu terkabul. Amazing ya? Ternyata doa pun bisa datang dari orang yang bisa jadi nggak pernah ada sangkut pautnya dengan kita. Yang kalau diibaratkan garis, bersinggungan pun nggak pernah. Gimana ya caranya memperbanyak ini? Hmm…

Siapa yang bisa menggerakkan hati manusia (untuk berdoa)? Ya cuma Dia. Siapa yang mengatur bahwa pada detik sore tadi, si Metromini ngerem mendadak? Ya cuma Dia. Siapa yang bikin sudut mataku melihat Bapak Penarik Gerobak? Ya cuma Dia. Ndak ada yang lain.

Jadi sebenernya semua itu sudah tertata dengan rapi, enggak meleset satu mili detik pun. So, why so sad?

Saturday, August 31, 2013

Journey to the Trend

Some random thoughts on financial matters and material world will be written here. 
------------------------------------
Agustus 2013

Pattern-nya sudah mulai terbentuk. I guess I'm getting my own trend. Sekarang udah bisa lebih santai dalam mengatur mana yang boleh dihabiskan, mana yang harus ditabung, mana yang boleh dijadikan 'reward'. Bener tuh yang dibilang mbak Blogger Frugal, butuh waktu untuk mendapatkan pola seberapa nyaman kita dengan pola spending kita. Iya sih, dipikir-pikir, sering kali kalap beli barang yang pengen dibeli padahal sebenernya nggak terlalu dibutuhkan atau udah punya. Contohnya? ATK. Pulpen, pensil, post it. Hampir setiap kali beli itu, padahal udah ada satu box penuh isinya barang-barang itu. Contoh lain lagi, di supermarket ngeliat barang buy 1 get 1, diskon, atau oat berhadiah mangkok. Gyabooo… langsung deh dibeli. Padahal abis gitu… errrrr, siapa yang mau ngabisin? Yang sudah dilakukan: Pembayaran-pembayaran rutin sudah di set ke transfer otomatis, jadi ngga bakal lupa/terlewat, Pembayaran tahunan, misalnya PBB, dll, diset remindernya sebulan sebelum deadline. Pemisahan rekening untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan/kebutuhan lainnya (masih belum OK). PR berikutnya: Think (again, deeply!) about the investment!

------------------------------------
Juli 2013

Aku dibilang pelit! Aaaaaaak. xD Kok bisa dibilang pelit ya? Define: pelit! Aku nggak merasa pelit loh. Tapi memang aku memperhitungkan setiap rupiah yang dikeluarkan orang lain. Aku nggak mau punya hutang yang enggak disadari. Kalaupun ada selisih barang seratus maupun seribu rupiah, harus kupastikan bahwa orangnya ridho akan rupiah-rupiah itu. Apakah itu yang dibilang pelit? Huuu huuu T_T

------------------------------------
Jumat, 29 February 2013

Hari ini belajar banyak. 1. Kontrol emosi itu penting, tapi ikutin gut feelings juga ga salah ;) 2. Jangan bebelian dengan emosi (lihat no.1), biasanya kalau didiemin semalem, bakal terasa mana yang bener-bener penting untuk dipunya dan mana yang cuma karena emosi sesaat saja. Dan tentunya, yang judulnya emosi-emosi itu selanjutnya menimbulkan pertanyaan. Ngapain sih kemaren kubeli? #lahh haha.

------------------------------------

Monday, August 26, 2013

the truth and nothing but the truth

Most of the time, the truth is harsh.
It is healthy for the soul, though.
After all the wreck? Always do.

Let's grow up.