Saya ngga ngerti... Sebenernya siapa yang lebih 'sableng' otaknya. Saya atau Voldie?
Saya yang keras kepala atau dia yang keras kepala? Siapa sih sebenernya yang lebih keras kepala?
#kenapa juga nanya di blog sendiri?
#ya ngga apa2, daripada nanya ama rumput yang bergoyang...
Saturday, April 28, 2012
Tuesday, April 24, 2012
Enough
"Dearest" and "kita" is not enough. Not enough at all.
But it's enough for today. :)
And tomorrow I will get my sanity back then hate the situation I put myself in. Again.
Next time I know, I will curse this insanity.
But it's enough for today. :)
And tomorrow I will get my sanity back then hate the situation I put myself in. Again.
Next time I know, I will curse this insanity.
Tuesday, April 03, 2012
Janji
Promise I made... Promise I made...- The Promise, Girl's Aloud
Started to fade, FADE...
Dari nonton film The Hunger Games, jadi kepingin baca bukunya. (Sigh, padahal kemarin di IBF abis beli buku banyak, belom sempet dibaca). Baca-baca reviewnya (udah tahu banyak spoilernya, tapi tetep aja nekad dibaca!) sepertinya OK juga.
Dari wikipedia:
"In the book, Katniss must deal with betrayal and violence against people. At the same time, while she was symbolically touching thousands of lives, she must also lead those people into war. Finally, Katniss realizes she cannot even trust President Coin, leader of District 13."
Ini yang bikin saya nulis posting ini. Kemarin waktu jalan-jalan unwinding sambil chat gajebo ama LV jadi kepikiran, manusia itu punya begitu banyak facet. Ngga semua orang bisa kita percaya on face value. Sayang ya... I learnt it the hard way. Padahal saya sudah berusaha kasih kepercayaan yang besar loh. Kok bisa dan tega ya? Mungkin perlu introspeksi juga, jangan-jangan selama ini saya juga tega ama orang lain. #langsung inget utang kerjaan.
Semoga masih diberkahi dengan manusia-manusia baik di sekeliling saya. Amiin.
Tuesday, March 20, 2012
Tentang Konflik
"Life is flashing before our eyes, like lullaby..." Miracle-Tom Baxter
Kemarin sempet bertukar pikiran dengan dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut a.k.a Lord Voldie. Sebenernya bertukar pikiran itu kurang pas, lebih pas kalo dibilang saya cerita-cerita-cerita dan saya paksa dan sandera dia buat nanggepin.
Ujung-ujungnya sesi gajebo itu punya kesimpulan "manajemen konflik". Atau mungkin EQ kali ya? Sebagai seseorang yang cinta damai tapi kalo diajak berantem ayo-ayo aja, manajemen konflik itu membingungkan. Kenapa? Ya karena dari awalnya aja ngga pengen berkonflik. Jadi ketika jatuh konflik jadi gagap. Bingung mesti gimana, mundur ambil jarak, atur strategi, BLAAARRRR!!! Hajaaaaarrrr. Errr... atau kudu dibiarin aja? Nah waktu menimbang-nimbang ini biasanya memunculkan banyak drama-drama yang enggak perlu.
Beda lagi sama Voldie, IMHO, kalo dia tipenya pecinta damai tapi nyebahi. Jadi kalo sampe timbul konflik, gantung, tinggal pergi aja deh, ntar kalo udah beres baru balik. Lha, nyebahi tho? Ini tipe-tipe manusia yang perlu dipentung terus dijitak terus diiket terus disiram aer panas... lho lho lho kok jadi nyiksa? Dendam pribadi nampaknya. Hahaha...
Ada lagi seseorang yang gagah berani, gak peduli itu medan penuh paku atau racun, hajar ya hajar aja. Urusan ntar jadi perang besar atau perang 6 jam, ya itu urusan belakang. Errrr... agak serem kalo sama yang ini. Ngga pernah bisa terbaca dengan jelas. Selama masih membela kebenaran dan keadilan sih masih aman.
Ada lagi yang manajemen konfliknya adalah dengan 'pura-pura pingsan' alias ngga jelas dia ini sebenernya tahu ngga sih ada konflik atau enggak. Jangan-jangan selama ini mengandalkan jurus Lucky Luke.
Tentunya masih banyak jurus-jurus manajemen konflik lainnya, sesuai dengan kepribadian dan kedewasaan masing-masing. Bisa jadi orang itu berilmu setinggi langit, tapi kalo ngga imbang juga bisa repot. Hmm... apapun itu, akhirnya kembali ke diri masing-masing kan, mau pake jurus yang mana? Jurus kombinasi juga bisa.... ^^
Jadi mesti gimana ya?
Kemarin sempet bertukar pikiran dengan dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut a.k.a Lord Voldie. Sebenernya bertukar pikiran itu kurang pas, lebih pas kalo dibilang saya cerita-cerita-cerita dan saya paksa dan sandera dia buat nanggepin.
Ujung-ujungnya sesi gajebo itu punya kesimpulan "manajemen konflik". Atau mungkin EQ kali ya? Sebagai seseorang yang cinta damai tapi kalo diajak berantem ayo-ayo aja, manajemen konflik itu membingungkan. Kenapa? Ya karena dari awalnya aja ngga pengen berkonflik. Jadi ketika jatuh konflik jadi gagap. Bingung mesti gimana, mundur ambil jarak, atur strategi, BLAAARRRR!!! Hajaaaaarrrr. Errr... atau kudu dibiarin aja? Nah waktu menimbang-nimbang ini biasanya memunculkan banyak drama-drama yang enggak perlu.
Beda lagi sama Voldie, IMHO, kalo dia tipenya pecinta damai tapi nyebahi. Jadi kalo sampe timbul konflik, gantung, tinggal pergi aja deh, ntar kalo udah beres baru balik. Lha, nyebahi tho? Ini tipe-tipe manusia yang perlu dipentung terus dijitak terus diiket terus disiram aer panas... lho lho lho kok jadi nyiksa? Dendam pribadi nampaknya. Hahaha...
Ada lagi seseorang yang gagah berani, gak peduli itu medan penuh paku atau racun, hajar ya hajar aja. Urusan ntar jadi perang besar atau perang 6 jam, ya itu urusan belakang. Errrr... agak serem kalo sama yang ini. Ngga pernah bisa terbaca dengan jelas. Selama masih membela kebenaran dan keadilan sih masih aman.
Ada lagi yang manajemen konfliknya adalah dengan 'pura-pura pingsan' alias ngga jelas dia ini sebenernya tahu ngga sih ada konflik atau enggak. Jangan-jangan selama ini mengandalkan jurus Lucky Luke.
Tentunya masih banyak jurus-jurus manajemen konflik lainnya, sesuai dengan kepribadian dan kedewasaan masing-masing. Bisa jadi orang itu berilmu setinggi langit, tapi kalo ngga imbang juga bisa repot. Hmm... apapun itu, akhirnya kembali ke diri masing-masing kan, mau pake jurus yang mana? Jurus kombinasi juga bisa.... ^^
Jadi mesti gimana ya?
Saturday, March 10, 2012
Ujug-ujug
Hidup itu penuh kejutan, penuh tiba-tiba, dan penuh tahu-tahu. Aku tahu itu, tapi sering ngga terima, dan terkadang 'memaksa' menolak kejutan-kejutan itu dengan menutup diri dan atau silently menolaknya. Diam, tapi ngga peduli. Diam, tapi ngotot untuk enggak mau. A kind of defense mechanism, I guess. Dan itu melelahkan. Tapi aku terlalu sombong untuk menyerah. Haha, kadang2 masih ngga ngerti, apa gunanya diciptakan manusia-manusia sombong sepertiku? Untuk menyiksa dirinya sendiri? Itu pasti. Lainnya?
Dan seperti juga hidup yang ujug-ujug, tiba-tiba terdampar semalam di Rumah Betang di Desa Sei Uluk Palin. Posisinya 1 jam naik pesawat + 1 jam jalan darat dari Pontianak.
Tidur di pinggir sungai, di antara pepohonan tinggi, di rumah setinggi 6-8 meter dari tanah, panjangnya sekitar 230 meter. Nice? He eh. Tiba-tiba saya kehilangan rasa egois saya (unfortunately, untuk sementara, semoga untuk selamanya). Duh Gusti, sampun kulo pasrah.
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Aslih sya’ni kullahu wa la takilni ila nafsi tharfata ‘ainin.
Dan seperti juga hidup yang ujug-ujug, tiba-tiba terdampar semalam di Rumah Betang di Desa Sei Uluk Palin. Posisinya 1 jam naik pesawat + 1 jam jalan darat dari Pontianak.
Tidur di pinggir sungai, di antara pepohonan tinggi, di rumah setinggi 6-8 meter dari tanah, panjangnya sekitar 230 meter. Nice? He eh. Tiba-tiba saya kehilangan rasa egois saya (unfortunately, untuk sementara, semoga untuk selamanya). Duh Gusti, sampun kulo pasrah.
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits, Aslih sya’ni kullahu wa la takilni ila nafsi tharfata ‘ainin.
at
12:15
Subscribe to:
Posts (Atom)