Monday, February 24, 2014

Kisah Sepotong Waffle

Baca majalah Tempo yang menulis tentang label halal, jadi teringat sepotong kisah.

Kejadiannya kalau nggak salah di tahun 2008, di Waterford, Irlandia.
Waktu itu hotel yang kami tinggali nggak menyediakan fasilitas breakfast. Karena aku baru bergabung malem-malem buta dan sangat lapar, aku jalan duluan ke resto fast food persis di sebelah hotel. Chain restoran ini belum keliatan di Indonesia sampai saat ini. 

Biasalah, karena duit mahasiswa cekak (alesan ding), biar ngga laper, makan french fries dan telor aja lah. Mbak Waitressnya menerima pesanan dan langsung dikasihkan ke mas yang masak. Mas yang masak ngeliatin aku, terus ngga lama setelahnya, dia datengin aku dan bilang, "Kayaknya mending ganti pesanan deh, kamu muslim kan? Gini lho, takutnya minyak yang buat masak kecampuran ama yang dipake buat masak yang non halal. Mau nggak sarapan pancake atau waffle aja? Kalau yang itu aman deh." Kaget campur terharu ngeliat masnya. Dari tampangnya sih dia orang Timur Tengah. Oh well. Alhamdulillah ada yang mengingatkan dan menjaga. Itulah namanya muslim brother/sisterhood. :)

Makanya sedih banget kalau lihat dan merasakan betapa muslim yang satu negara, yang harusnya tidak asing satu sama lain justru nggak rukun. :( Mungkin mayoritas membuat kita semakin sombong dan individualis, serta lupa bahwa kita sebaiknya menjaga satu sama lain. Wallahu 'alam.

Saturday, February 22, 2014

21 Februari 2014

Sungguh, kalau Allah mau membukakan hati itu adaaaa aja jalannya. :) Akhirnya bisa berdamai juga. Berdamai dengan diri sendiri itu penting. Sehingga ga perlu lagi bertanya kenapa. Yang sudah terjadi, ya memang harus terjadi. Pilihan-pilihan yang dibuat karena emosi, kebodohan, dan alasan-alasan lainnya stayed there sebagai pembelajaran. Next time, lebih logis dalam bertindak.

Ketika melangkah ke depan, ngga perlu lagi diingat2 detail cerita lama. Yang perlu diingat adalah bagaimana cerita-cerita itu membentuk dan--semoga--mendewasakan diri. :)

Alhamdulillah. Terima kasih yaa Allah :D

Friday, February 14, 2014

Jadi Kopi

Jadi kopi, itu pesan WI sore ini. Sederhana dan sudah sering didengar. Jangan jadi wortel, jangan jadi telur,.... Jadilah kopi. Jangan pecahkan masalah, malah jadi banyak. "Diatasi sajalah", begitu katanya. Dengan diatasi, ketika masalah yang sama datang, kita sudah di atasnya. Oh well, words play :) Walau begitu, Disposisinya akan berbunyi: untuk dilaksanakan! 

The Flood-nya Take That ini untuk para Defenders of the Faith di luar sana. Percayalah, kita enggak sendirian. :)

Standing on the edge of forever,
at the start of whatever.
We beamed at the moon and the stars,
then we forgave them.
We will meet you where the lights are,
the Defenders of the Faith we are.
Although noone understood we will holding back the flood
learning how to dance the rain.
Bleeding, but none of us leaving.
Here we come now on a dark star,
seeing demons, not what we are.
There was more of them than us,
now they'll never dance again.

Wednesday, February 05, 2014

Bengong

Ini hari kedua dari sekian hari yang masih harus dijalani di 'pengasingan'. Dear God, I am bored already. 

Jadi, duduk manis, bermain dengan telpon yang menurut aturan ngga boleh... Akhirnya kesasar di website Ted. Sungguh, kenikmatan apa yang sedang saya dustakan? Dan kenapa ada begitu banyak manusia yang diciptakan untuk merasakan derita yang sedemikian berat. Oh no, ini bukan hanya tentang korban banjir di banyak kota di Indonesia. Ini tentang mereka yang kelaparan dan tidak berdaya, mereka yang harus menjual raga (dan mungkin jiwa) karena ketiadaan pilihan. Sungguh, beruntung manusia jika hidup ini memang hanya tempat bersenda gurau yang sementara. I'll see you and your smiles in the eternity.